Kado Terindah di Balik Kematian

 


Aurel, gadis manis yang selalu ceria dalam menjalani kesehariannya itu kini telah menginjak remaja. Hari-harinya selalu dihiasai senyum manis yang memancarkan pesonanya. Tak terasa kini usianya akan menginjak 13 tahun. Dalam menjalani kesehariannya Aurel selalu ditemani sahabat karibnya, Kayla.

“Hai Kayla, selamat pagi”, itulah kata pertama Aurel yang diucapkan kepada Kayla

“Selamat pagi juga…” balas Kayla. Sapaan itu membuat persahabatan mereka menjadi semakin akrab. Saat itulah semua cerita dimulai.

********

Pagi yang cerah ini, Kayla ingin mengajak Aurel pergi ke tempat yang belum diketahui Aurel sama sekali.

“Aurel, pergi yuk…” ajak Kayla

“Pergi kemana? Aku lagi males nih….  mending nonton tv sambil main hp, mumpung lagi libur.” Jawab Aurel dengan santainya.

“Rahasia dong. Pokoknya kamu harus ikut aku” sahut Kayla dengan nada sedikit memaksa

“Kemana, sih….. Kayaknya penting banget.” Jawab Aurel yang semakin penasaran dengan ajakan Kayla. Akhirnya, Aurel bersedia untuk pergi bersama Kayla ke suatu tempat yang sama sekali Aurel belum mengetahui tempat tersebut.

Mungkin hari itu akan menjadi hari yang sangat berarti bagi Aurel dan Kayla. Kayla mengajak Aurel ke sebuah tempat yang penuh dengan pesona alam yang begitu indah, disertai dengan sayup-sayup angin yang terasa begitu menyejukkan jiwa. Taman Agresia. Sebut saja itu namanya.

Di taman itu dipenuhi dengan bunga-bunga yang elok nan indah. Selain itu, hiasan-hiasan yang sengaja dibuat untuk memperindah pemandangan, semakin menarik perhatian pengunjung. Aurel sangat terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Tak henti-hentinya ia memandangi sekitar dengan wajah yang begitu bahagia.

Selama hidupnya, ia memang jarang diajak kedua orang tuanya untuk berlibur. Karena kedua orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Aurel adalah anak pendiam yang tak akan berani untuk pergi keluar tanpa seizin orang tuanya.

******

“Selamat ulang tahun, Aurel” teriak Kayla  membuyarkan pandangan Aurel yang sejak tadi terus memandangi suguhan pemandangan yang ada dihadapannya itu. Aurel hanya tersenyum dan sedikit mengeluarkan air matanya melihat tingkah sahabatnya itu. Tak menyangka, bahwa sahabatnya yang belum lama ia kenal ingat dengan hari ulang tahunnya yang bahkan kedua orangtuanya tak pernah sedikitpun memberi ucapan kepadanya.

Perlahan-lahan Kayla mulai mendekati Aurel sambil menyodorkan kado untuk Aurel.

“Selamat ulang tahun, sahabatku yang paling cantik. Maaf, hanya ini yang bisa kuberikan untukmu dan tempat ini adalah saksi persahabatan kita.” Ucap Kayla

“Terima kasih, Kayla.” Balas Aurel sambil menerima bingkisan kado dari Kayla. Antara bahagia dan sedih, tak tahu entah apa yang Aurel rasakan saat ini

Perlahan Aurel mulai membuka bingkisan kado yang diberikan oleh Kayla untuknya. Namun perlahan juga tangan itu mulai berhenti. Tiba-tiba ia menoleh melihat sahabat yang ada disampingnya itu. Dengan segera ia memeluk sahabatnya begitu erat.

“Sebenarnya, di hari ulang tahunku ini aku tak mengharapkan semua ini darimu. Yang kuharapkan adalah kasih sayang dan ketulusanmu. Dan kado terindah itu adalah kamu, sahabatku.”

Belum sempat Kayla membalas ucapan Aurel, tiba-tiba ia merintih kesakitan sambil memegang kepalanya. Dan akhirnya ia jatuh pingsan di pangkuan Aurel. Dengan segera Aurel menelpon Pak Farhan, supir pribadinya untuk menjemputnya lalu Kayla dibawa ke Puskesmas terdekat.

“Bagaimana keadaan teman saya, Bu?” tanya Aurel dengan cemas

“Sepertinya teman anda ini menderita penyakit yang sangat serius dan harus segera mungkin di bawa ke Rumah Sakit.” Jawab Bidan sembari memberikan surat rujukan Rumah Sakit kepada Aurel.

Setelah mendapat rujukan dari puskesmas, Aurel langsung membawa Kayla ke Rumah Sakit dan dengan cepat Kayla mendapat penanganan dari pihak Rumah Sakit. Setelah beberapa menit, akhirnya Dokter keluar dari ruang ICU. Tanpa berfikir Panjang, Aurel langsung berlari menghampiri Dokter tersebut.

“Bagaimana dengan keadaan teman saya, Dok?” tanya Aurel dengan begitu khawatir akan terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.

“Maafkan saya, Dek. Nyawa teman Adek sudah tidak bisa tertolong karena penyakit kanker yang dideritanya sudah mengganas dan menyebar ke semua organ tubuhnya, sehingga berakibat pada kematian. Allah sudah berkehendak lain. Mungkin ini yang terbaik buat teman Adek. Adek yang sabar, ya…” terang Dokter sekaligus menenangkan seorang anak perempuan yang menagis tersedu-sedu di hadapannya itu. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata yang terus terbayang-bayang akan sahabatnya itu. Betapa terpukulnya Aurel Ketika mendengar perkataan Dokter yang membuat seluruh badannya lemas tak berdaya. Jatuh dan terpuruk, itu yang dirasakan Aurel saat ini

“Inna lillahi wainnaa ilaihi raaji’uun” ucap Aurel sambil meneteeskan butiran-butiran air matanya yang perlahan begitu deras membasahi wajah cantiknya. Ia tak percaya dengan perkataan Dokter dan ia langsung berlari menghampiri Kayla yang sudah tak bernyawa lagi.

“Kayla, bangun Kayla. Jangan tinggalin aku. Bangun, Kayla.” Ucap Aurel dengan suara lirih

********

Siang itu, cuaca menjadi tak bersahabat. Dunia serasa ikut merasakan kepergian Kayla. Setelah pemakaman itu selesai, tiba-tiba turun hujan dengan disertai petir yang menggelegar begitu keras dan angin yang bertiup begitu kencang.

 Semua orang telah pulang dari pemakaman sejak tadi karena turun hujan. Namun tidak dengan Aurel. Ia masih duduk termenung disamping makam Kayla dengan derasnya air mata yang tak berhenti sedikitpun. Hujan deras yang mengguyur tubuhnya, tak ia hiraukan sama sekali. Hingga akhirnya setelah berjam-jam, ia memutuskan untuk pulang karena hari menjelang maghrib.

Sesampainya Aurel di rumah, ia memutuskan untuk membuka bingkisan kado yang diberikan Kayla yang belum sempat ia buka waktu itu. Dan Aurel pun menemukan secarik kertas yang di tulis menggunakan tinta merah. Perlahan ia baca kata demi kata yang tertulis dalam secarik kertas itu. Tak henti-hentinya air mata mengalir deras di pipi merahnya.

 Namun di penghujung surat, sedikit demi sedikit senyuman mulai mengembang di wajah cantiknya. Ia memeluk dan mencium secarik kertas itu dan kado pemberian Kayla. Setelah itu, ia masukkan Kembali kado itu kedalam kotak dan ia simpan di almari. Ia berharap, ia akan bisa melupakan kesedihan atas meninggalnya Kayla dengan mengikhlaskan kepergiannya.

“Semoga kamu Bahagia disana ya, Kay. Aku akan terus mendo’akanmu dari sini” bisik Aurel dalam hati dengan senyuman bahagia di wajahnya.

Oleh: Zahrotul Muniroh, Mahasiswi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

 

 

0 Komentar