Betapa banyak orang yang ingin menghafalkan al-Qur’an. Salah satunya adalah saya sendiri. Ada beberapa orang yang memulai menghafal al-Qur’an ketika sudah dewasa. Tentu itu adalah hal yangat berat, disamping banyak hal yang yang harus ia kerjakan dan tanggung jawab yang harus ia selesaikan. Namun itu bukan salah satu alasan untuk tidak menghafalkan al-Qur’an.

Mungkin mereka yang merindukan menjadi penghafal al-Quran tersebut sudah pernah mencoba tapi gagal, atau mungkin karena kesibukannya tidak sempat menghafal. Semua itu kembali pada kemampuan setiap orang yang berbeda-beda. Allah swt menciptakan makhluknya dengan kadar kemampuan yang berbeda-beda. Atau bisa jadi belum menemukan momentum yang mendorong diri untuk memiliki keinginan kuat menghafalkan al-Qur’an.

Banyak hal yang menjadi alasan atau motivasi setiap orang ketika ingin menghfalkan al-Qur’an. Bahkan setiap penghafal al-Qur’an memiliki momentum-momentum tersendiri. Adakalanya ketika seseorang itu melihat seorang anak kecil yang masih balita namun bisa mengfalkan al-Qur’an, sehingga ia punya niatan untuk bisa seperti balita itu. Hanya saja yang membedakan adalah waktu menghafalkannya. Atau bisa jadi lingkungan juga bisa menjadi momentum tersendiri untuk seseorang itu ingin menghafalkan al-Qur’an. Di lingkungan keluarga yang mayoritas adalah penghafal Qur’an, tentu mendorong seseorang itu juga menghafalkan al-Qur’an.

Momentum yang bisa menjadi salah satu alasan kuat saya sendiri untuk menghafalkan al-Qur’an adalah ketika hendak masuk sekolah Madrasah Tsanawiyah. Sebelumnya, niatan untuk menghafalkan al-Qur’an sudah ada sejak SD. Bisa menghafalkan al-Qur’an menjadi salah satu cita-cita saya ketika itu. Melihat banyak orang yang bisa mengfalkan al-Qur’an dengan fasih dan lancar membuat saya memiliki niatan untuk ingin menjadi penghafal al-Qur’an. Hanya saja belum ada usaha maksimal dari diri sendiri untuk mencapai itu.

Bapak saya selalu membiasakan saya sejak kecil untuk bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Terutama di dua waktu, subuh dan lsya’. Tepat di dua waktu itu adalah waktu wajib untuk hanya sekedar membaca al-Qur’an. Karena selain membaca al-Qur’an, Bapak juga menyuruh saya untuk menghafal juz 30 sedikit demi sedikit. Itu adalah salah satu kesempatan yang saya sia-siakan. Karena kemalasan saya, sehinnga hafalan juz 30 saya tidak selesai-selesai hingga akhirnya celengan hafalan saya ketika mondok baru sampai juz 30 surat al qori’ah. Sangat disayangkan sekali.

Selain itu, support dari orang tua terkhusus Bapak saya yang memiliki keinginan kuat untuk saya bisa menghafalkan al-Qur’an adalah salah satu keinginan kuat saya untuk bisa menghafalkan al-Qur’an. Hingga saya menemukan momentum yang menguatkan tekad saya untuk menghafalkan al-Qur’an. Kebetulan ada program beasiswa tahfidz al-Qur’an di Madrasah Tsanawiyah yang hendak saya tempati. Kebetulan saya adalah angkatan kedua diadakannya program tersebut. Namun semua itu tidak terlepas dari seleksi terlebih dahulu. Hanya tiga besar yang akan lolos untuk bisa mendapatkan kesempatan mengikuti program tahfidz tersebut. Alhamdulillah, segala puji dan kasih sayang Allah yang tak terduga, nama saya tercantum sebagai urutan kedua masuk tiga besar seleksi program tahfidz tersebut. Memang rencana Allah yang terbaik dan tidak pernah terduga selalu ada bagi hamba-hamba-Nya yang memang mau berusaha keras dan berdo’a.

Terlepas dari itu, kemudian saya menempati asrama yang disiapkan oleh sekolah yang masih minoritas karena masih program baru. Kebetulan saya dan dua teman saya yang lulus seleksi program tahfidz ditempatkan berbeda dengan yang lainnya dengan harapan bisa fokus menyelesaikan target hafalan yang harus kami kejar. Dari situ, semangat saya untuk menghafalkan al-Qur’an semakin kuat. Di sisi lain, melihat Umik yang sudah menikah dan memiliki anak, masih memiliki keinginan kuat untuk menyelesaikan hafalannya yang sempat tertunda dulu, membuat saya semakin termotivasi untuk menghafalkan al-Qur’an.

Memang terkadang kita membutuhkan support system baik dari orang tua ataupun sahabat untuk bisa meneukan momentum itu. Baik itu secara sengaja ataupun tidak sengaja muncul dihadapan kita. Dengan tekad yang kuat dan usaha yang maksimal, insya’a Allah semua yang sudah menjadi niat akan tercapai. Jika memang belum tercapai, percayalah Allah lebih tahu yang terbaik buat kita. Bismillah……